DONGGALA – Pemerintah Kabupaten Donggala melalui Dinas Perikanan terus memperkuat upaya percepatan penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem dengan menggelar intervensi konvergensi di wilayah terpencil.
Salah satu langkah konkret dilakukan dengan menyalurkan bantuan pangan berbasis ikan kepada keluarga sasaran.
Sebanyak 1,2 ton ikan segar serta 708 paket olahan perikanan berupa abon dan stik ikan didistribusikan kepada masyarakat di Desa Malino dan Desa Lumbu Lama, Kecamatan Banawa Selatan. Program ini menyasar keluarga berisiko stunting sekaligus kelompok miskin ekstrem yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2.
Kepala Dinas Perikanan Donggala, Ir. Ali Assagaf, S.P.I., MH, menjelaskan bahwa intervensi ini difokuskan pada peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui konsumsi protein hewani yang cukup.
“Ikan mengandung omega-3 yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan otak, sistem saraf, dan kesehatan anak. Ini menjadi langkah penting untuk mencegah stunting sejak dini,” katanya.
Berdasarkan data Dinas P2KB Donggala, penerima bantuan di Desa Malino tercatat sebanyak 159 kepala keluarga, sementara di Desa Lumbu Lama mencapai 195 kepala keluarga.
Pelaksanaan kegiatan di dua desa tersebut melibatkan lintas sektor. Untuk Desa Lumbu Lama, kegiatan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Perikanan bersama tim teknis, sedangkan di Desa Malino dipimpin oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Donggala, Mohammad Fahri, S.Sos., M.Si.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Bappeda Donggala, Camat Banawa Selatan, pihak Puskesmas, Forkopimcam, pendamping KB, serta pemerintah desa setempat.
Desa Lumbu Lama menjadi salah satu prioritas karena masuk kategori wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Dengan kondisi geografis berupa perbukitan dan akses antar dusun yang cukup sulit, distribusi bantuan menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap berkomitmen menghadirkan layanan hingga ke wilayah terpencil. Program ini sejalan dengan visi Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, SE, dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan.
Data penerima bantuan diperoleh dari hasil integrasi data Bappeda yang menggabungkan keluarga berisiko stunting dengan keluarga miskin ekstrem. Melalui pendekatan ini, diharapkan intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran.
Pemerintah menargetkan penurunan angka stunting sebesar 15,5 persen, serta pengurangan kemiskinan ekstrem hingga 10,3 persen. Selain itu, konsumsi ikan masyarakat juga ditingkatkan dengan target mencapai 61,62 kilogram per kapita per tahun pada 2026.
Langkah ini diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perubahan pola konsumsi menuju sumber pangan yang lebih sehat dan bergizi.







